Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Desember 2017

KISAH “ASHABUL UKHDUD” DALAM AL QUR’AN

KISAH “ASHABUL UKHDUD” DALAM AL QUR’AN






Peristiwa Ashhabul Ukhdud adalah sebuah tragedi berdarah, pembantaian yang dilakukan oleh seorang raja kejam kepada jiwa-jiwa kaum muslimin, ini merupakan kebiadaban dan tindakan tak berprikemanusiaan; namun akidah tetaplah harus dipertahankan, karena dengannyalah kebahagiaan yang abadi akan diperoleh. Allah mengisahkan kejadian tragis ini dalam Alquran dengan firman-Nya:

” 4. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit,   5 . yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, 6.  ketika mereka duduk di sekitarnya,  7. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” 

(QS. Al-Buruj: 4-7)


Para ahlul ilmi sedikit berselisih dalam menafsirkan siapakah Ashhabul Ukhdud. Sebagian di antara mereka (ahlul ilmi) mengatakan bahwa mereka (Ashhabul Ukhdud) adalah suatu kaum yang termasuk orang-orang ahli kitab dari sisa-sisa orang Majusi.
Ibnu Abbas dalam suatu riwayat mengatakan: “Mereka adalah sekelompok manusia dari bani Isra’il. Mereka menggali parit yang luas di suatu tempat kemudian menyalakan api, orang-orang berdiri dihadapkan kepada parit, baik laki-laki maupun wanita, kemudian mereka dilemparkan ke dalamnya. Mereka menganggap bahwa dia adalah Daniel dan para sahabatnya.”
Dan dalam riwayat: “Hal itu adalah sebuah lubang parit di negeri Najran, di mana mereka menyiksa manusia di dalamnya.”
Sedangkan dalam riwayat Adl-Dlohak, beliau mengatakan: “Para ahli tafsir menyangka bahhwa Ashhabul Ukhdud adalah orang-orang dari bani Israil, di mana mereka meringkus manusia baik laki-laki maupun wanita, lalu dibuatkanlah parit dan dinyalakan api dalam parit tersebut, lalu dihadapkanlah seluruh kaum mu’minin ke arah parit tersebut, seraya dikatakan: ‘Kalian (memilih) kufur atau dilemparkan ke dalam api?” (Tafsir Ath-Thabari, 30/162)
Kisah tragis ini pun kerap disampaikan oleh para pengajar kepada para muridnya. Bahkan pada kisah anak-anak pun sering disajikan. Kisah tersebut ialah sebagai berikut:
Dahulu ada seorang raja, dari orang-orang sebelum kalian. Dia memiliki seorang tukang sihir. Tatkala tukang sihir itu sudah tua, berkatalah ia kepada rajanya: “Sesungguhnya aku telah tua. Utuslah kepadaku seorang anak yang akan aku ajari sihir.” Maka sang raja pun mengutus seorang anak untuk diajari sihir. Setiap kali anak tersebut datang menemui tukang sihir, di tengah perjalanan ia selalu melewati seorang tabib, ia pun duduk mendengarkan pembicaraan rahib tersebut, sehingga ia kagum kepadanya. Maka setiap kali ia datang ke tukang sihir, ia selalu duduk dan mendengarkan petuah rahib itu, kemudian baru ia datang ke tukang sihir sehingga tukang sihir itu memukulnya (karena ia datang terlambat, red.). ia mengadukan hal itu kepada rahib tadi, sang rahib pun berpesan: “Kalau engkau takut kepada tukang sihir, katakanlah bahwa keluargamu telah menghalangimu (sehingga engkau terlambat), dan bila engkau takut kepada keluargamu, katakan juga bahwa tukang sihir itu telah mencegahmu. Maka tatkala berlangsung demikain, tiba-tiba ada seekor binatang buas mengonggok di tengah jalan sehingga menghalangi lalu-lalangnya manusia. Menghadapi peristiwa ini maka ia pun bergumam: “Pada hari ini akan aku buktikan apakah tukang sihir itu lebih utama dari pada rahib, ataukah sebaliknya.”
Ia pun mengambil sebuah batu kemudian mengatakan: “Ya Allah, apabila perkara rahib lebih engkau sukai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang buas itu.” Kemudian ia lemparkan batu tersebut, sehingga matilah binatang buas tadi dan manusia pun bisa lewat kembali. Sesudah itu datang lah ia kepada rahib dan mengabarkan kejadian yang baru saja ia alami, kemudian sang rahib mengatakan:
“Wahai anakku, hari ini engkau lebih baik daripada aku, dan engkau telah sampai pada perkara yang aku sangka. (ketahuilah) sesungguhnya engkau akan diuji, dan bila engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan tentang diriku.”
Dan kini ia dapat menyembuhkan penyakit buta, penyakit kusta, serta dapat mengobati manusia dari berbagai macam penyakit.
Hal ini terdengar oleh seorang teman duduk raja, sedangkan dia adalah seorang yang buta, kemudian ia membawa harta yang banyak seraya mengatakan: “Aku akan berikan harta ini kepadamu bila engkau bersedia menyembuhkan penyakitku.” Maka sang anak menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah bisa menyembuhkan siapapu, yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah maka aku akan berdoa kepada-Nya untuk kesembuhanmu.” Maka ia pun beriman kepada Allah dan Allah pun menyembuhkan penyakitnya. Kemudian datanglah dia menemui sang raja dan duduk sebagaimana biasanya, sang raja pun heran seraya mengatakan: “Siapakah yang telah mengembalikan pandanganmu?” maka ia menjawab: “Rabb-ku.”  Sang raja melanjutkan: “Apakah engkau memiliki tuhan selain aku?!!” Jawabnya, “Ya, Dia adalah Rabb-ku dan Rabb-mu juga.” Maka sang raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada anak tersebut. Didatangkanlah si anak itu, kemudian sang raja berujar: “Wahai anakku, sekarang engkau telah memiliki kepandaian sihir, sehingga bisa menyembuhkan orang yang buta dan juga bisa menyembuhkan penyakit kusta dan lain sebagainya.” Sang anak balik menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, dan hanya Allah-lah yang bisa menyembuhkan.”
Akhirnya sang raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada rahib. Maka didatangkanlah si rahib, kemudian dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Ia pun enggan. Maka sang raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat di tengah kepalanya, dan dibelahlah tubuhnya sampai terbelah menjadi dua bagian. Kemudian didatangkan pula teman duduk sang raja tersebut, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Demikian pula, ia pun enggan, kemudian ditaruh gergaji itu di atas kepalanya, lantas dibelahlah tubuhnya hingga terbelah.
Selanjutnya didatangkanlah sang anak, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Ia pun menolak. Kemudian ia dilemparkan kepada sekelompok prajurit raja, dan dikatakan: “Pergilah kalian ke gunung ini dan gunung ini, mendakilah sampai di puncak gunung, apabila ia mau berhenti dari agamanya selamatkan dia, dan kalau tidak, maka lemparkan ia ke dasar jurang.”
Maka mereka pun pergi, kemudian naik, dan tatkala berada di atas gunung sang anak berdoa: “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Tiba-tiba bergetarlah gunung tersebut dan semua prajurit raja jatuh berguguran ke bawah jurang, kemudian kembalilah sang anak menemui sang raja. Ia heran dan mengatakan: ‘Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab: “Sesungguhnya Alalh telah menjagaku dari makar mereka.” Maka kembali sang raja melemparkannya ke sekelompok prajuritnya yang lain, kalai ini perintah sang raja: “Pergilah kalian dan bawalah anak ini ke sebuah perahu, apabila kalain telah ke tengah laut, maka apabila ia mau berhenti dari agamanya selamatkanlah ia, kalau ia tetap enggan, lemparkanlah ia ke tengah lautan!”
Maka mereka pun pergi, setelah sampai di tengah laut, sang anak pun berdoa: “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Maka perahu itu pun terbalik, namun Allah tetap menyelematkannya dan tenggelamlah seluruh prajurit raja. Kembalilah sang anak datang menemui sang raja, ia pun terkejut seraya mengatakan: “Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab, “Allah telah menjagaku dari makar mereka.” Kemudian ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya engkau tidak akan pernah bisa membunuhku, kecuali bila engkau mau menuruti permintaanku.” Sang raja menjawab, “Apakah itu? Sang anak melanjutkan, “Kumpulkanlah seluruh manusia pada satu tempat, kemudian saliblah aku di sebuah pohon kurma, kemudian ambillah satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan anak panah itu di busurnya, kemudian katakanlah “Bismilah Rabbil ghulam (dengan nama Allah Rabb-nya anak ini).’ Kemudian lepaskanlah anak panah tersebut. Dengan begitu engkau bisa membunuhku.”
Maka sang raja pun mengumpulkan manusia pada suatu padang yang luas. Dia menyalib anak tersebut pada sebuah batang kurma, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat anak panahnya dan diletakkan di sebuah busur, kemudian mengatakan: “Bismillah Rabbin ghulam (Dengan menyebut nama Allah, Rabb anak ini).” Kemudian panah itu dilepaskan, maka anak panah itu melesat tepat mengenai pelipis sang anak, setelah itu Ia meletakkan tangannya di pelipisnya kemudian meninggal.

Maka manusia seluruhnya mengucapkan, “Aamanna bi Rabbil ghulam (Kami beriman kepada Allah Rabb-nya anak tersebut).” Maka dikatakan kepada sang raja: “(Wahai sang raja!) Tahukah engkau, perkara yang selama ini kau khawatirkan telah terjadi. Sungguh manusia seluruhnya telah beriman.” Maka sang raja memerintahkan untuk membuat sebuah parit di dekat pintu-pintu jalan dan membuat lubang panjang. Lalu dinyalakanlah api kemudian ia berorasi: “Barangsiapa yang tidak mau kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam parit tersebut.” Atau sehingga dikatakan, “Lemparkanlah!!” maka mereka pun melemparkan seluruhnya. Sampai datang seorang wanita bersama bayinya, ia seorang wanita bersama bayinya, ia berputus asa, berdiri lemas tanpa daya menghadap jurang parit yang tengah berkobar api, tiba-tiba sang bayi berucap, “Wahai ibuku.. bersabarlah, sesungguhnya engkau dalam kebenaran…!”

(Hadits shahih riwayat Imam Muslim dalam kitab Az-Zuhd bab “Qishashotu Ash-habil Ukhdud was Sahir war Rahib wal Ghulam: 3005)
Mutiara faidah dari kisah pemuda dan tukang sihir (Ashhabul Ukhdud)

1.      Ahlul fasad (para pengusung kesesatan) selalu berusaha untuk menularkan dan mewariskan kesesatan mereka, dengan berupaya sekuat tenaga untuk melanggengkan kesesatannya tersebut.
2.      Disenanginya belajar di kala kecil, karena belajar di kala kecil seperti mengukir di atas batu, dan seorang anak akan mampu menerima didikan dan pengajaran sesuai dengan yang diharapkan.
3.      Hati-hati para hamba adalah berada di Tangan Allah, maka Allah akan memberi petunjuk atau menyesatkan siapapun yang dikehendaki-Nya. Lihatlah si anak tersebut, ia mendapatkan petunjuk sekalipun berada dalam didikan tukan sihir dan dalam asuhan seorang raja sesat.
4.      Menetapkan adanya karomah para wali, mereka adalah orang-orang yang berimand an bertakwa kepada Allah, seperti dalam firman-Nya: “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS. Yunus: 62-63)
5.      Bolehnya bagi seseorang untuk mengorbankan dirinya apabila di sana ada kemaslahatan manusia secara umum. Berkata Syaikhul Islam, “Karena hal itu termasuk jihad di jalan Allah, dengan itu umat akan beriman dan ia pun tidak akan sia-sia, karena cepat atau lambat ia pun pasti akan meninggal dunia” Adapun yang dilakukan oleh sebagian manusia dengan praktek bom bunuh diri, yaitu dengan membawa alat peledak (bom) kemudian meledakkannya di sekelompok orang-orang kafir, maka ini termasuk kategori membunuh diri sendiri, dan barangsiapa yang membunuh diri sendiri maka ia kekal di dalam neraka selama-lamanya. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan sebatang besi, maka besi itu berada di tangannya, lantas ia akan menusuk perutnya dengannya di neraka jahannam, dia kekal selama-lamanya di dalamnya.” (HR. Bukhari 5778, Muslim: 109). Karena perilakus emacam itu tidak membawa maslhat bagi kaum muslimin secara keseluruhan. Dengan itu, ia mungkin hanya membunuh 10, 100, atau 200 kaum kuffar, yang hal tersebut tidak membawa manfaat bagi Islam dan tidak pula menjadikan manusia masuk ke dalam Islam. Berbeda dengan kisah ghulam (anak) tersebut. (Lihat Bahjatun Nadhirin karya Syaikh Salim bin Id Al-Hilali 1/86-88, Syarh Riyadlush Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin: 156-166).

Wallahul Muwaffiq.

 

 


ketika illuminati menguasai dunia

     ketika illuminati menguasai dunia





Dan ada begitu banyak teori tentang ini.. kita dibombardir tentang ini..
Kita melihat orang-orang membicarakan freemason Order, illuminati, bankir internasional, zionis kesadaran akan alien, bahkan ada grup-grup sanatis, agama-agama dunia baru. Semua ini berdatangan, dan apa yang kalian lihat dalam kebanyakan kasus adalah grup-grup ini menyembah sesuatu kekuatan. Jika kau melihat tingkat tertinggi dari grup ini, kau akan melihat mereka melakukan suatu bentuk penyembahan bukan kepada tuhan. Bukan kepada tuhan musa, isa, atau muhammad saw, melainkan pada kekuatan lain. Mereka mencari dan mengambil kekuatan dari kekuatan itu. Dan tidak seorangpun yang tahu kekuatan apa itu. Tapi umat muslim punya prinsipnya.

Dan Allah telah memberitahu kita didalam Quran
Surat : Bani israil / ayat : 81



Daripada Tsauban r.a. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni bekas hidangan mereka” Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi SAW menjawab “Bahkan kamu pada hari itu terlalu ramai, tetapi kamu umpama buih pada masa banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu daripada hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’. Seorang sahabat bertanya “Apakah ‘wahan’ itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Daud)



Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Qudamah Al Jumahi dari Ishaq bin Abu Furat dari Al Maqburi dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu?” beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (Sunan Ibnu Majah)




Dan sekarang kita menyaksikan dengan berkembangnya teknologi baru, bahwa manusia punya kemampuan untuk mengirim informasi ke berbagai tempat secara bersamaan. Kita bisa menyaksikan kejadian disini di australia yang dapat terjadi dibagian dunia lain, di Eropa. Tapi pada saat yang sama, kita dapat dibingungkan juga. Seluruh dunia dapat dibohongi secara bersamaan. Dan mereka punya kemampuan untuk memutar-balikkan, untuk merancang, untuk menyatukan gambar-gambar dan suara, dan untuk mengembangkan cerita yang meskipun ceritanya tidak benar, tampak seakan benar. Dan kamu tahu ini tak benar, tapi kamu menontonnya seakan ini benar, dan ini mempengaruhi cara berpikirmu. Jadi seperti yang disabdakan Rasulullah saw “mereka akan datang kepadamu dengan suatu pembicaraan yang tidak pernah didengar olehmu dan orangtuamu.” Kamu tidak pernah mendengar ini sebelumnya.

Kita mulai melihat klimaks dari perubahan besar dalam masyarakat. Klimaks dari New World Order. Dan kita mulai melihat sebuah bentuk integrasi, antara informasi, teknologi, dan perdagangan.

Kita mulai melihat ekonomi, politik, budaya, dan ideologi ditransportasikan secara bersamaan dari bangsa ke bangsa. Dan dengan teknologi ini, dengan kemampuan mentransportasikan gagasan, nilai-nilai dari masyarakat, cara mereka makan, apa yang mereka nikmati, rekreasi mereka, konsep ras mereka, budaya mereka, ideologi mereka, ditransportasikan ke seluruh dunia. Sebuah bentuk globalisasi. Dan dengan meledaknya informasi dan teknologi, dan dengan kejadian besar terjadi, sekarang sampai kepada titik puncaknya, dia mencapai titik tinggi. Jadi sebagai seorang awam, kita melihat ini, dan kita berkata, “apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan dunia” yang mempunyai begitu banyak pandangan berbeda, berbagai bangsa, berbagai cara dalam suatu hal, yang dapat menangkap satu sama lain. Sekarang kita melihat politik direnggut kekuasaannya. Ekonomi memerintahkan seluruh transaksi sosial. Kita melihat negara melayani struktur kekuatan finansial, bahwa kekuatan sebenarnya tidak lagi berada ditangan jendral, melainkan kekuatan sebenarnya sekarang pindah ke orang-orang yang menjalankan ekonomi, kepada sistem perbankan. Lalu kita melihat para politisi memainkan peran petugas relasi publik hanya untuk mengendalikan masyarakat, entah dengan menina-bobokan mereka atau dengan meneror mereka. Lalu kita melihat masyarakat menjadi tersibukkan dan tak berdaya. Hidup mereka dibombardir dengan rangkaian event-event budaya. Dan event-event budaya ini mulai menjadi hal paling penting dalam hidup mereka :

World Cup, Major League Series, Rugby, Kriket, Hockey, Tennis, apapun olahraganya, kita melihat seluruh masyarakat terpesona dengannya. Dan pahlawan nasional adalah atlet-atlet olahraga. Bahkan di Arab Saudi, bahkan dinegara-negara muslim, pahlawan nasionalnya sekarang adalah pemain sepakbola yang menendang bola kecil ke arah gawang. Dia menjadi pahlawan bangsa sementara banyak orang yang sekarat, tapi kita menjadi tersibukkan dengan ini. Dan ini menjadi sebuah bentuk indoktrinasi dan dengan penggunaan musik yang memainkan perasaan kita yang memainkan perasaan kita.

Dengan video yang sekarang sampai pada titik ekstrim. Proses berfikir masyarakat berubah. Orang-orang sekarang jatuh cinta pada superhero, bahkan bingung dengan identitas mereka sendiri, mencoba mengubah diri sendiri, mengubah warna rambut mereka, mengubah mata mereka, mengubah pakaian mereka, mengubah cara bicara mereka pada tingkat global.

 Kemudian kita melihat kecanduan obat sampai ke titik dimana manusia tidak pernah melihatnya sebelumnya, melihat umat muslim dan bersama mereka, bahwa pemuda-pemuda dibuat bingung dengan obat-obatan. Ia merasuk ke negara kita. Tak peduli dalam bentuk apakah obat itu, kokain, LSD, obat delusi, depressan, membuatmu tinggi, membuatmu tidur, membingungkanmu, dan menciptakan dunia palsu,
 dan memberikanmu ketergantungan palsu sehingga kau menjadi bergantung pada zat kimia, kau lupa akan Allah. Tuhanmu menjadi obat itu, tuhanmu menjadi zat kimia itu sehingga menciptakan ketergantungan ini diantara masyarakat. Lalu kita melihat penyakit sosial mematikan tersebar.

Dan dikatakan di Afrika Selatan, dan Allah yang lebih tahu, tapi mereka berkata bahwa dibeberapa bagian Afrika selatan, satu dari empat orang positif HIV. Ia telah sampai ke tingkat ini. Dan apapun HIV ini, ada banyak teori. Entah ini suatu kuman penyakit, entah ini ditransfer melalui homoseksualitas, entah ini karena suatu kerusakan, bahkan ada sebagian dokter yang bilang bahwa kekebalan tubuhmu bisa rusak karena sejumlah faktor. Tidak hanya oleh virus dimana mereka tidak pernah memberitahu kita bentuknya, tapi sistem imun dapat rusak karena malnutrisi, karena tuberkulosis, karena malaria, dan mereka mencatat hampir 40 cara bahwa kekebalan tubuhmu dapat rusak, dan jika kau mengambil tes, kau dianggap positif HIV.

Apapun itu, bisa membunuh kita. Ia membunuh kita dalam jumlah besar. Lalu kita melihat planet menjadi gagal berfungsi. Kita harusnya maju dalam teknologi, hidup kita harusnya menjadi lebih baik, tapi planet ini sendiri yang diciptakan untuk melayani kita, sekarang gagal berfungsi. Udara menjadi berpolusi, air menjadi tercecer, binatang-binatang mati, mereka menebangi hutan-hutan, mereka menghancurkan kehidupan, dan sekarang ada kangker yang aneh. Panyakit baru, kanker baru, tumor baru, dan hal-hal yang menggerogoti tubuh kita yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Dan ini terjadi diseluruh planet.

Jadi apa yang terjadi di hadapan kita?
Ketika orang-orang mulai bicara, ketika mereka mencoba memprotes apa yang terjadi, bahkan ketika mereka memprotes dengan cara legal, mereka pun diberikan informasi palsu yang datang dari teknologi, atau merekapun diteror, mereka pun dibuat ketakutan. Jadi ketika kejadian 9/11 terjadi, dunia berubah, mereka terhubung dengan teknologi elektronik, dibuat ketakutan, dan gambar-gambar disebarkan dihadapan mereka, dan gambar-gambar ini terhubung dengan situasi geo-politik.
Jangan dibodohi!

Apa yang terjadi adalah kita melihat semuanya bergerak menuju pemerintahan satu dunia! Kepolisian satu dunia! Bank untuk satu dunia! Dan pemimpin-pemimpin elit untuk satu dunia yang memerintah kita bukan bedasarkan keinginan rakyat, atau demokrasi, melainkan memerintah karena kendali Bank.


Minggu, 17 Desember 2017

Kemenangan Umat Islam Atas Mongol di Perang Ain Jalut

 Kemenangan Umat Islam Atas Mongol di Perang Ain Jalut


Pada Bulan Ramadhan tahun 658 H, Sultan Mesir, Saifuddin Quthuz, keluar dari Mesir bersama pasukan Mesir, Syam, dll. Ia memerintahkan panglimanya, Baybars, untuk berangkat terlebih dahulu. Mencari-cari berita tentang persiapan Pasukan Mongol.
Ketika Baybars tiba di Gaza, ia bertemu sekelompok kecil pasukan Mongol. Ia segera menghadapi mereka dan berhasil mengalahkannya. Kekalahan ini sedikit memberikan pengaruh pada moral pasukan Mongol.
Kemudian Sultan Quthuz pun tiba di Gaza. Ia tinggal selama sehari di tanah Syam itu. Setelah itu, ia kembali berangkat melalui jalur Arce. Melewati jalur-jalur tentara Salib. Pasukan Salib menawarkan bantuan untuk menghadapi Mongol. Quthuz menolaknya. Bahkan ia sempat berperang dengan Pasukan Salib sebelum berjumpa Pasukan Mongol. Sampai akhirnya Quthuz berjumpa dengan Baybars di Ain Jalut.
Setelah Hulagu pergi meninggalkan Syam menuju Mongol untuk turut serta dalam pemilihan Khan yang baru, pasukan Mongol dipimpin oleh Katbugha. Katbugha mengumpulkan semua kekuatan Mongol yang ada di Syam. Semua bersatu dan bersiap untuk Perang Ain Jalut.
Quthutz mengatur strategi. Di medan perang nanti, ia tidak langsung mengeluarkan pasukan utamanya. Pasukan utama disiapkan. Mereka bersembunyi di bukit serta lembah-lembah Ain Jalut. Pasukan ini dipimpin oleh Baybars.
Pada tanggal 15 Ramadhan 658 H, pertempuran besar pun pecah di Ain Jalut. Pasukan Mongol datang bagaikan ombak besar di hadapan Pasukan Mesir. Seolah-olah mereka akan dengan mudah merebut kemenangan. Mereka sudah berhasil mengalahkan barisan depan pasukan. Tapi, Sultan Quthuz tetap teguh dan tak merasa gentar. Ia berteriak dengan seruan perang yang terkenal “Waa Islaamaah!!” Kekuatan pasukannya keluar, bersatu, dan kokoh berada di sekelilingnya. Mereka menyerang dan berhasil mengejutkan Pasukan Mongol.
Orang-orang Mongol terkejut dengan keteguhan dan ketangguhan umat Islam dalam peperangan. Mental mereka ciut. Semangat mereka kendur. Ditambah mereka melihat Panglima Katbugha, terkapar tewas. Jasadnya terbaring di medan Ain Jalut. Perang besar ini pun dimenangkan oleh kaum muslimin. Kedigdayaan Pasukan Mongol pun terhenti. Kekalahan bukanlah kemustahilan untuk mereka.
Umat Islam terus mengejar Pasukan Mongol yang kocar-kacir melarikan diri. Sampai akhirnya, Mongol berhasil bersatu kembali di Bisan, sebuah desa dekat Ain Jalut. Bentrok pun kembali berlanjut. Semakin sengit dan semakin sengit. Sultan Quthuz terus berteriak, memotivasi pasukannya, “Waa Islaamaah!!” Ia berteriak tiga kali. Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini, Quthuz.” Tidak lama, kemenangan pun digapai oleh kaum muslimin. Inilah kali pertama orang-orang Mongol merasakan kekalahan dalam perang sejak zaman Jenghis Khan.
Kemenangan yang begitu bersejarah. Sultan Quthuz turun dari kudanya. Ia tempelkan wajahnya di tanah, lalu menciumnya sebagai ungkapan gembira. Kemudian ia menunaikan shalat dua rakaat, ungkapan syukur kepada Allah.
Sumber:
– https://lite.islamstory.com/
حدث-في-15-رمضان-انتصار-عين-جالوت/



Oleh Nofriyaldi
Artikel www.KisahMuslim.com



Wafatnya Sejarawan Islam, al-Maqrizi


 Wafatnya Sejarawan Islam, al-Maqrizi



Pada tanggal 16 Ramadhan 845 H, wafat sejarawan besar Islam, al-Maqrizi. Beliau adalah Taqiyuddin Ahmad bin Ali bin Abdul Qadir al-Ba’li. Keluarganya berasal dari daerah Ba’labak, Libanon. Tapi ia dilahirkan di Kairo, Mesir.
Meskipun namanya Ahmad bin Ali, tapi ia lebih dikenal dengan nama al-Maqrizi. Nisbat kepada sebuah kampung yang bernama al-Maqarizah. Sebuah kampung dari kampung-kampung yang ada di Ba’labak. Ayahnya hidup di Kairo. Ia menyandang beberapa jabatan. Di antaranya menjabat sebagai hakim dan dewan hisbah.
Kemudian mereka pindah ke Damaskus pada tahun 811 H. Dan tinggal di sana selama 10 tahun. Al-Maqrizi mengisi hari-harinya di Damaskus dengan belajar dan bekerja di Departemen Wakaf. Setelah genap 10 tahun, ia kembali ke Kairo. Di sanalah ia memulai menulis sejarah. Pda tahun 834 H, ia berhaji bersama keluarganya. Dan tinggal beberapa saat di Hijaz. Melalui jamaah haji, ia mendapat informasi tentang sebagian negeri Arab. Setelah itu, ia kembali lagi ke Mesir pada tahun 839 H hingga wafatnya pada usia 79 tahun.
Karya-Karyanya
Al-Maqrizi banyak menulis tentang Geografi dan Sejarah. Karyanya dalam Geografi adalah sebuah buku yang diberi judul al-Mawa’izh wa al-I’tibar fi Dzikri al-Khattath wa al-Atsar. Buku inilah yang awal mula melabungkan namanya. Dalam buku tersebut ia bercerita tentang Mesir. Peninggalan-peninggalan kunonya. Dan para pendiri Mesir.
Dalam bidang sejarah, ia punya karya:
Pertama: As-Suluk li Ma’rifati Duwal al-Muluk. Ini adalah buku sejarah Mesir dari tahun 577 H hingga 844 H.
Kedua: Durar al-‘Uqud al-Faridah fi Tarajim al-A’yan al-Mufidah. Buku ini memuat biografi para tokoh.
Ketiga: It’azh al-Hunafa bi Akhbari al-Aimmah al-Khulafa. Yang merupakan sejarah Daulah Fatimiyah.
Keempat: Durar al-Mudhi-ah. Buku sejarah Islam yang mengisahkan kejadian mulai dari tragedi pembunuhan Utsman hingga masa al-Mu’tashim, khalifah terakhir Daulah Abbasiyah.
Kelima: Imta’ al-Asma’ bima li ar-Rasul min al-Anba’ wa al-Ahwal wa al-Hafadah wa al-Mata’.
Keenam: Nabadzah al-‘Uqud fi Umuri an-Nuqud. Buku ini adalah kajian sejarah uang bangsa Arab. Dan lain-lain.
Karya-karya beliau dicetak di negeri-negeri barat. Dipelajari dan dikaji di universitas-universitas mereka. Kemudian mereka memberikan kesimpulan sendiri dari apa yang sudah terbaca. Atau memang sebagiannya digunakan untuk menghambat tumbuh dan bangkitnya peradaban Islam sendiri.
Sumber:
– https://lite.islamstory.com/
حدث-في-16-رمضان-وفاة-المقريزي/



Sabtu, 09 Desember 2017

Mengapa Yerusalem Penting Bagi Kristen, Islam, dan Yahudi?

Mengapa Yerusalem Penting Bagi Kristen, Islam, dan Yahudi?

Ketika umat Kristen di seluruh dunia memperingati Paskah, orang Yahudi merayakan liburan Paskah dengan sebuah festival tradisi berziarah ke Yerusalem.

Kirana menerangi Kota Yerusalem, kota suci bagi Islam, Kristen, dan Yahudi. Tampak Kubah Shakhrah di Kota Lama Yerusalem berbalut keramik ubin mencolok di antara bangunan lain. Kota yang terletak di Timur Tengah ini memiliki sejarah peradaban yang panjang. (Thinkstockphotos)


Ketika umat Kristen di seluruh dunia memperingati Paskah, orang Yahudi merayakan liburan Paskah dengan sebuah festival tradisi berziarah ke Yerusalem. Wartawan BBC, Erica Chernofsky mencari tahu mengapa kota ini penting bagi umat Kristen, Islam dan Yahudi, dan tiga agama itu berbagi tempat yang berkaitan dengan figur Ibrahim dalam kitab suci. 
Yerusalem, nama itu bergema di hati umat Kristen, Yahudi dan Muslim selama beberapa abad berbagi area dan sejarah perselisihan. 
Dalam bahasa ibrani disebut Yerushalayim dan al-Quds dalam bahasa Arab, yang merupakan salah satu kota tertua di dunia. Di masa lalu, kota ini pernah ditaklukan, dihancurkan dan dibangun kembali selama beberapa kali dan meninggalkan sebuah bagian berbeda. 
Ketika wilayah ini menjadi fokus dari berbagai cerita mengenai perbedaan dan konflik antara orang yang berbeda agama, mereka bersatu dalam menghormati tanah suci ini. 
Kota ini memiliki arsitektur bersejarah, dan terdapat pembagian 'wilayah' bagi Kristen, Muslim, Yahudi dan Armenia. Dikelilingi oleh tembok batu dan menjadi lokasi situs-situs suci di dunia. 
Setiap bagian mewakili populasinya sendiri. Kristen memiliki dua 'wilayah' karena orang Armenia juga Kristen, dan wilayah mereka paling kecil diantara yang lain, yang menjadi Pusat Armenia tertua di dunia. 
Menjadi unik karena komunitas mereka telah mempertahankan budaya sendiri dan peradaban di dalam Gereja St James Church dan biara.

Gereja 
Di dalam wilayah Kristen terdapat Gereja Makam Kudus, yang menjadi situs penting bagi umat Kristen di seluruh dunia. Situs ini berada di tengah sejarah perjalanan Yesus, kematiannya, penyaliban dan kebangkitan. 
Gereja Makam Kudus dikelola oleh perwakilan kaum Kristen di Yerusalem (BBC Indonesia).

Menurut tradisi Kristen, Yesus disalib di sana, di Golgotha, atau bukit Calvary, makamnya berada di dalam gereja dan juga menjadi lokasi kebangkitannya. 
Gereja dikelola secara bersama oleh perwakilan kaum Kristen yang berbeda, sebagian besar dari Patriarkat Ortodok Yunani, Biara Franciskan dari Gereja Katolik Roma, dan Patriarkat Armenia, tetapi juga Ethiopia, Koptik, dan Gereja Ortodoks Suriah. Lokasi ini merupakan tempat tujuan ziarah bagi jutaan umat Kristen di seluruh dunia. 

Masjid 
Wilayah Muslim merupakan yang terbesar diantara yang lain dan terdapat tempat suci Dome of Rock dan Masjid the al-Aqsa serta dataran tinggi yang dikenal sebagai Haram al-Sharif oleh umat Islam. 
Masjid al-Aqsa merupakan tempat suci ketiga bagi umat Islam (BBC Indonesia).

Masjid ini merupakan tempat suci ketiga bagi Islam setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid al-Aqsa dikelola oleh yayasan Islam Waqf. 
Umat Muslim yakin Nabi Muhammad ke Yerusalem dari Mekkah ketika melakukan perjalanan malam yang disebut Isra Mi'raj, diyakini pula di Masjid al-aqsa Nabi Muhammad sholat bersama dengan roh seluruh nabi. Dan di dekat tempat suci Dome of the Rock, terdapat batu yang dipercaya umat Muslim, merupakan tempat yang dipijak nabi sebelum melakukan perjalanan ke surga. 
Umat Muslim mengunjungi situs suci tersebut sepanjang tahun, tetapi setiap Jumat pada bulan Ramadhan, ratusan ribu umat Muslim melakukan sholat di masjid.

Tembok 
Wilayah Yahudi merupakan tempat bagi Kotel, atau Tembok Barat atau dikenal sebagai Tembok ratapan, yang merupakan bagian dari dinding bagian yang tersisa dari bangunan Bait Suci. 
Tembok Ratapan merupakan situs suci yang penting bagi umat Yahudi (BBC Indonesia).

Di dalam candi dulu merupakan terdapat ruang Maha Kudus, yang merupakan situs suci bagi umat Yahudi. 
Kaum Yahudi percaya bahwa lokasi ini merupakan lokasi batu fondasi penciptaan bumi, dan tempat dimana Ibrahim bersiap untuk mengorbankan anaknya Ismail. Hari ini, Tembok Ratapan merupakan tempat terdekat bagi kaum Yahudi untuk berdoa ke Maha Kudus. Lokasi ini dikelola oleh Rabi dan setiap tahunnya jutaan orang Yahudi dari seluruh dunia melakukan ziarah.

 Sumber: Bbc.co.uk/indonesia

SUMATRA SUDAH DIKENAL SEJAK ZAMAN RASULULLAH SAW, Kajian Teori Prof. Dr. Sayyid Muhammad Naquib Al Attas

SUMATRA SUDAH DIKENAL SEJAK ZAMAN RASULULLAH SAW, Kajian Teori Prof. Dr. Sayyid Muhammad Naquib Al Attas

 Syed Muhammad al Naquib al Attas


Benarkah pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” yang di seminarkan November 2011 lalu.


Syed Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur. Ia juga menulis berbagai buku di bidang pemikiran dan peradaban Islam, khususnya tentang sufisme, kosmologi, filsafat, dan literatur Malaysia.
Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.
Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas.
Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain meyebutkan sebagai berikut:
“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (menyediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu“….
Dasarnya tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis. Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili atau Syiah Kuala adalah beberapa diantara ulama besar di Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan Pasai dan Aceh Darussalam. Bahkan, beberapa Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan (alumni) yang berguru di Samudera Pasai bahkan ada yang memiliki hubungan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di Tanah Jawa.
Kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kāfūr” juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.
Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur. Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra
.

Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi. Perlu di ketahui, bahwa asal-usul penamaan pulau “Sumatera” sendiri berasal dari kata “Samudera” Pasai.
Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.
Kembali menurut Al-Attas, ia menyebutkan, ada empat faktor penyebab minimnya sumber dan kajian sejarah Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Pertama, sumber dan karya ilmiah sejarah Islam yang ditulis dalam huruf Jawi/Pego (Arab latin) oleh masyarakat Nusantara tidak begitu terkenal di kalangan ilmuwan Barat karena tidak banyak dari mereka yang pandai membaca tulisan Jawi.
Kedua, banyak sumber sejarah yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya pada zaman penjajahan.
Ketiga, biasanya sumber-sumber sejarah yang ditulis masyarakat Nusantara dianggap oleh orientalis sebagai artifak sastra, sebagai karya dongeng atau legenda, yang hanya bisa dipelajari dari sudut filologi atau linguistik, dan tidak bisa diterima sebagai sumber sejarah yang sempurna dan benar.
Keempat, karena minimnya sumber dan kajian sejarah Islam Nusantara membuat para ilmuwan Barat hanya menggunakan sumber, kajian dan tulisan dari luar Nusantara termasuk dari Barat. Mereka tidak memperhatikan atau mungkin tidak tahu adanya bahan-bahan dan informasi yang terdapat dalam berbagai sumber sejarah Islam termasuk sumber-sumber sejarah dari wilayah Nusantara.
Salah satu fakta spekulatif tersebut adalah hadits yang terdapat dalam Hikayat Raja Raja Pasai. Menurutnya, fakta-fakta tersebut bisa valid jika telah menjalani proses “verification of fact”. Namun Al-Attas tidak melakukan proses ini terhadap hadits yang disebutkan di dalam hikayat raja-raja pasai tersebut.
Muslim China warga Malaysia ini mempertanyakan tentang hadits ini dan mengkhwatirkan implikasinya terhadap pemikiran masyarakat Nusantara. Menurutnya, al-Attas melakukan inductive methode of reasoning secara tidak konstruktif. Sedang Dr. Syamsuddin Arif, dosen IIUM asal Jakarta, selaku pembicara kedua dalam acara bedah buku tersebut mengungkapkan kesimpulan al-Attas di atas logis dan sesuai dengan fakta.

Hal ini berdasarkan perjalanan pelaut dan pedagang Arab pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pergi ke China. Untuk mencapai negeri China melalui laut tak ada rute lain kecuali melalui dan singgah wilayah Nusantara.
Lebih lanjut Arif mengemukakan berbagai teori dan pendapat tentang kapan, dari mana, oleh siapa, dan untuk apa penyebaran Islam di Nusantara beserta bukti-bukti dan fakta-fakta yang digunakan untuk mendukung pendapat-pendapat tersebut. Arif juga menjelaskan ilmuwan siapa saja yang memegang dan yang menentang pendapat-pendapat tersebut.
Di akhir makalahnya, Arif mempertanyakan pendapat J.C. Van Leur yang pertama kali menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan politik para pelakunya.
Van Leur dalam bukunya “Indonesian Trade and Society” berpendapat, sejalan dengan melemahnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Sumatera dan khususnya di Jawa, para pedagang Muslim beserta muballigh lebih berkesempatan mendapatkan keuntungan dagang dan politik. Dia juga menyimpulan adanya hubungan saling menguntungkan antara para pedagang Muslim dan para penguasa lokal.
Pihak yang satu memberikan bantuan dan dukungan materiil, dan pihak kedua memberikan kebebasan dan perlindungan kepada pihak pertama. Menurutnya, dengan adanya konflik antara keluarga bangsawan dengan penguasa Majapahit serta ambisi sebagian dari mereka untuk berkuasa, maka islamisasi merupakan alat politik yang ampuh untuk merebut pengaruh hingga menghimpun kekuataan.

Menurut catatan M. Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:
 1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.
 2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.
                     3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri.
Dari catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga seperti tersebut di atas, Prof. A. Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).
Nama Samudera dan Pasai sudah populer disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina, Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365) pada abad ke 13 dan ke-14 Masehi. Dan tentang asal usul nama kerajaan ini ada berbagai pendapat.
Menurut J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai .




 Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan Indonesia pengarang buku ACEH SEPANJANG ABAD yang berkecimpung dengan penelitiannya tentang kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia”, berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad ke VIII M seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina, adalah identik atau mirip sekali dengan Pase atau Pasai.
Pendapat ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke-7 Masehi, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam.

Wallahu'alam bissawab..


Rabu, 06 Desember 2017

Mereka adalah Gelas-Gelas Kaca (Al-Qawaareer)

Mereka adalah Gelas-Gelas Kaca  

(Al-Qawaareer)


Sebuah nasehat indah dari lisan nabi muhammad shallahu’alaihi wasallam mengenai para wanita. Membuat hati yang mencintai beliau semakin mencintainya. Sebuah nasehat yang mudah dipahami oleh siapa saja yang mendengarkan ataupun membacanya.

Suatu ketika seorang budak bernama Anjasah sedang dalam perjalanan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Anjasah memiliki suara yang keras hingga unta-unta yang dituntunnya bergerak liar tanpa kendali. Hampir saja para wanita yang berada di atas unta tersebut terjatuh. Nabi kemudian menasehati Anjasah untuk melirihkan suaranya dan berkata dengan lemah lembut.

اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ
“hai Anjasah, perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut.” (hr. Bukhari)

Maksud dari al-qawaareer di sini ialah para wanita. Begitu indah bukan? bahasa yang beliau pilih sangat tepat dan mengagumkan. Beliau shallallahu alaihi wa sallam mengibaratkan para wanita sebagai gelas-gelas kaca. Sebuah gelas bila telah hancur maka akan sulit untuk kembali ke bentuk semula. Meski menggunakan lem paling baik sekalipun. Begitu pula dengan hati wanita, sekali ia hancur maka akan sulit untuk menormalkannya lagi. Untuk itu, pesan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menjaga hati para wanita dan selalu berlaku lemah lembut pada mereka.
Mereka (para wanita) ialah para ibu, saudara wanita, bahkan kekasih kita. Untuk itu, selalu ingat pesan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “irfaq bil qawaareer (perlaukan gelas-gelas kaca dengan lemah lembut).

Faedah yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah :

1. untuk para wanita, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat menghormati anda, sudah sepantasnya kita juga menghormati beliau. Terkadang, diantara kita masih ada yang tidak menghormati bahkan mencela beliau. Bagaimana bisa, bukankah Nabi telah meninggal? Ya, sebab kita mencela orang-orang yang mengikuti sunnah-sunnah beliau yang pada hakikatnya kita mencela beliau shallallahu alaihi wa sallam, wal’ iyadzu billah.

2. untuk para pria, jangan sekali-kali mempermainkan hati para wanita, sebagaimana yang digambarkan Nabi bahwa mereka ibarat gelas-gelas kaca yang sangat rentan pecah. Wanita juga adalah para ibu, saudara wanita, bahkan si mbah kita.

3. mulailah belajar untuk mencintai Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui kisah hidup beliau, membaca nasehat-nasehat beliau dari hadits-hadits shahih. Sehingga, kita berharap Allah subhanahu wa ta’ala kelak akan mengumpulkan kita bersama orang yang kita cintai yakni Nabi dan para sahabatnya.